Jakarta, 8 Mei 2026 – Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menyelenggarakan Workshop Persiapan Pendirian Program Studi Sarjana Teknologi Pangan sebagai langkah strategis dalam merespons perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pangan serta meningkatnya kebutuhan akan tenaga ahli yang kompeten dan siap bersaing di tingkat global. Kegiatan yang berlangsung di Tower A SFD, Ruang Rapat Lantai 10 ini secara resmi dibuka oleh Dekan Fakultas Teknik UNJ, yang dalam sambutannya menegaskan pentingnya pengembangan program studi yang adaptif, relevan dengan kebutuhan industri, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi ketahanan pangan nasional. Lebih dari itu, inisiatif ini juga sejalan dengan komitmen perguruan tinggi dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan tanpa kelaparan (Zero Hunger), pendidikan berkualitas (Quality Education), serta konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab (Responsible Consumption and Production).

Workshop menghadirkan narasumber ahli, Prof. Dr. Ir. Feri Kusnandar, M.Sc dari IPB University, yang memberikan pemaparan mendalam mengenai standar pendidikan teknologi pangan, pengembangan kurikulum, serta praktik terbaik dalam proses akreditasi program studi. Dalam paparannya, disampaikan bahwa penyusunan kurikulum program studi dapat mengacu pada standar yang ditetapkan oleh Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) serta regulasi terbaru pendidikan tinggi, sehingga mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya memenuhi standar akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap isu-isu global, termasuk keberlanjutan sistem pangan. Kegiatan ini diikuti oleh pimpinan fakultas, tim taskforce pendirian program studi, tenaga kependidikan, serta perwakilan penjaminan mutu yang secara aktif berpartisipasi dalam diskusi dan perumusan arah pengembangan program studi.

Salah satu fokus utama dalam workshop adalah penyusunan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE), yang menekankan pada capaian pembelajaran sebagai pusat dari keseluruhan proses pendidikan. Pendekatan ini menuntut keselarasan antara profil lulusan, capaian pembelajaran lulusan, bahan kajian, hingga metode pembelajaran dan evaluasi. Dengan demikian, kurikulum tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi juga pada kemampuan aplikatif, pengambilan keputusan, serta tanggung jawab profesional lulusan sesuai dengan kerangka kualifikasi nasional. Selain itu, integrasi prinsip keberlanjutan dalam kurikulum juga menjadi perhatian, guna memastikan lulusan memiliki perspektif yang selaras dengan agenda pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam pengelolaan pangan yang aman, efisien, dan ramah lingkungan. 

Di samping aspek kurikulum, workshop juga membahas kesiapan infrastruktur dan sumber daya pendidikan yang menjadi penunjang utama penyelenggaraan program studi. Hal ini mencakup perencanaan fasilitas laboratorium, sarana pembelajaran, serta kualifikasi dan kebutuhan tenaga pengajar. Diskusi menekankan bahwa pengembangan fasilitas tidak dilakukan secara instan, melainkan dirancang secara bertahap dan sistematis dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber daya, prioritas kebutuhan pembelajaran, serta keberlanjutan pengelolaannya. Dalam perencanaan tersebut, terdapat tahapan pengembangan yang jelas, dimulai dari pemenuhan fasilitas dasar pada fase awal operasional program studi, hingga penguatan dan perluasan sarana prasarana pada tahap lanjut seiring dengan peningkatan kapasitas dan kebutuhan akademik. Pendekatan ini memastikan bahwa setiap pengembangan fasilitas memiliki arah yang terukur, realistis, dan selaras dengan roadmap institusi, sehingga mampu mendukung proses pembelajaran secara optimal tanpa mengesampingkan kualitas dan standar pendidikan yang diharapkan. Upaya ini juga dipandang sebagai bagian dari kontribusi institusi dalam mendukung pendidikan tinggi yang inklusif dan berkelanjutan sebagaimana ditekankan dalam SDGs. 

Lebih lanjut, peserta workshop juga memperoleh pemahaman komprehensif mengenai proses akreditasi program studi baru, termasuk tahapan penyusunan dokumen instrumen yang sesuai dengan standar BAN-PT dan Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Ilmu Pertanian (LAM PTIP). Selain itu, strategi penguatan jejaring dan kemitraan dengan industri pangan turut menjadi bagian penting dalam pembahasan, terutama dalam mendukung pelaksanaan pembelajaran berbasis praktik, magang, serta pengembangan kompetensi mahasiswa yang selaras dengan kebutuhan dunia kerja dan tantangan global di sektor pangan. 

Secara keseluruhan, workshop ini menjadi tahapan penting dalam proses pendirian Program Studi Teknologi Pangan di Fakultas Teknik UNJ. Melalui diskusi yang intensif, komprehensif, dan berbasis standar nasional, kegiatan ini diharapkan mampu menghasilkan rumusan yang matang sebagai dasar pengajuan program studi, sekaligus memperkuat komitmen institusi dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang berkualitas, relevan, berdaya saing, dan berkontribusi terhadap pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) di sektor pangan.