Niizi

Jakarta, 4 Juni 2026 – Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Otomasi (BEMP TRO) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) periode 2026/2027 melalui Departemen Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) menyelenggarakan kegiatan “Sekolah Organisasi 2026” pada Sabtu, 30 Mei 2026 di Gedung Raden Ajeng Kartini, Kampus A UNJ. Kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan kapasitas kepemimpinan serta memperluas wawasan mahasiswa dalam memahami dinamika organisasi secara aplikatif.

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Adelio Shatara selaku Steering Committee Program Kreativitas Mahasiswa (SC PKM) UNJ dan Nurhalisah dari organisasi Pasukan Biru Fakultas Teknik UNJ. Materi yang disampaikan berfokus pada penguatan gagasan sebagai dasar kepemimpinan, pentingnya aksi nyata dalam organisasi, serta peran komunikasi dan kerja sama tim dalam mencapai tujuan bersama.

Dalam pemaparannya, Adelio Shatara menekankan bahwa kepemimpinan tidak dapat dipisahkan dari kemampuan dalam membangun gagasan yang berakar dari permasalahan nyata. Ia menjelaskan bahwa gagasan yang baik bukan hanya lahir dari kreativitas, melainkan juga dari proses analisis yang sistematis terhadap isu yang terjadi di lingkungan sekitar. Proses tersebut mencakup identifikasi masalah secara mendalam, pengumpulan data sebagai dasar penguatan argumen, hingga penyusunan solusi terstruktur dan realistis untuk diimplementasikan.

Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa dalam konteks organisasi, gagasan memiliki fungsi strategis sebagai dasar pengambilan keputusan dan arah gerak program kerja. Tanpa adanya gagasan yang kuat, organisasi cenderung berjalan tanpa arah dan sulit memberikan dampak yang nyata. Oleh karena itu, kemampuan mengembangkan ide melalui metode seperti brainstorming, pemetaan konsep, serta riset sederhana menjadi keterampilan penting yang harus dimiliki setiap individu dalam organisasi.

Adelio juga menekankan pentingnya keberanian dalam menyampaikan gagasan serta kemampuan mempertahankan argumen secara rasional. Menurutnya, komunikasi yang efektif menjadi kunci agar ide yang disampaikan dapat dipahami dan diterima oleh tim. “Gagasan tidak hanya berhenti pada ide, tetapi harus diwujudkan melalui aksi nyata yang memberikan dampak,” ujarnya.

Sementara itu, Nurhalisah dalam pemaparannya menyoroti aspek implementasi dalam organisasi, khususnya terkait pentingnya aksi nyata dan peran aktif anggota. Ia menjelaskan bahwa organisasi yang efektif tidak hanya ditentukan oleh banyaknya perencanaan, tetapi oleh sejauh mana rencana tersebut dapat direalisasikan secara konsisten. Keberhasilan program kerja, menurutnya, bergantung pada keterlibatan anggota, kejelasan pembagian tugas, serta komunikasi yang terarah.

Ia juga menekankan bahwa dalam dinamika organisasi, tantangan seperti miskomunikasi, perubahan kondisi, hingga kendala teknis merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, dibutuhkan sikap adaptif, kemampuan mengelola situasi, serta fokus pada penyelesaian masalah secara kolektif. Dalam hal ini, peran pemimpin menjadi krusial sebagai pengambil keputusan yang mampu menjaga stabilitas tim dan memastikan tujuan organisasi tetap tercapai.

Lebih lanjut, Nurhalisah menegaskan bahwa kepemimpinan bukan sekadar posisi, melainkan tanggung jawab yang diwujudkan melalui tindakan nyata dan keteladanan. Seorang pemimpin dituntut untuk mampu bersikap tenang dalam tekanan, mengambil keputusan secara cepat dan tepat, serta terbuka terhadap evaluasi sebagai bagian dari proses pembelajaran organisasi. “Keberhasilan organisasi terletak pada aksi nyata, bukan sekadar perencanaan,” ungkapnya.

Dari sudut pandang Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Rekayasa Otomasi, kegiatan ini memiliki relevansi yang kuat dalam mendukung pembentukan kompetensi mahasiswa secara holistik. Mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknis di bidang rekayasa dan otomasi, tetapi juga kemampuan dalam mengelola tim, berpikir sistematis, serta menyelesaikan permasalahan berbasis analisis. Nilai-nilai yang disampaikan dalam kegiatan ini sejalan dengan karakter lulusan yang diharapkan, yaitu adaptif terhadap perkembangan teknologi, mampu berinovasi, serta memiliki kepemimpinan yang solutif dalam menghadapi tantangan di dunia industri maupun masyarakat.

Lebih jauh, pemahaman mengenai penyusunan gagasan, pengambilan keputusan, hingga implementasi nyata dalam organisasi mencerminkan proses kerja yang juga terjadi dalam bidang teknologi rekayasa otomasi. Setiap solusi harus melalui tahapan analisis, perancangan, hingga eksekusi yang terukur. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya relevan dalam konteks organisasi, tetapi juga memperkuat pola pikir engineering yang aplikatif dan terintegrasi.

Selain itu, kegiatan Sekolah Organisasi 2026 turut berkontribusi dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Dalam konteks pendidikan berkualitas (SDG 4), kegiatan ini menjadi sarana pengembangan kompetensi non-akademik yang mendukung pembelajaran sepanjang hayat. Penguatan kemampuan kepemimpinan, komunikasi, dan berpikir kritis menjadi bagian penting dalam menciptakan sumber daya manusia yang unggul.

Pada aspek pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi (SDG 8), kegiatan ini membekali mahasiswa dengan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja, seperti kemampuan problem solving, kolaborasi tim, serta kepemimpinan. Hal ini menjadi modal penting dalam meningkatkan daya saing lulusan di dunia industri.

Sementara itu, dalam mendukung kemitraan untuk mencapai tujuan (SDG 17), kegiatan ini menunjukkan adanya kolaborasi antara mahasiswa dengan berbagai elemen organisasi dan narasumber yang memiliki pengalaman di bidangnya. Sinergi ini menjadi bentuk nyata dari upaya membangun jejaring dan kerja sama yang berkelanjutan dalam pengembangan kapasitas mahasiswa.

Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan sesi diskusi dan berbagi pengalaman dari narasumber. Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan aktif dalam setiap sesi yang menunjukkan tingginya minat mahasiswa dalam mengembangkan kapasitas diri di bidang organisasi.

Melalui kegiatan ini, BEMP TRO berharap mahasiswa mampu mengembangkan karakter kepemimpinan yang berintegritas, adaptif, serta bertanggung jawab dalam setiap peran yang dijalankan. Sekolah Organisasi 2026 diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi langkah awal dalam membentuk mahasiswa yang mampu berpikir kritis, bertindak solutif, serta memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan kampus maupun masyarakat luas.

(Sumber: Instagram @bemptro_unj)