Search

Pengabdian Kepada Masyarakat

PENERAPAN SISTEM FILTRASI HYBRID ZEOLIT-RO UNTUK PENGOLAHAN AIR TANAH TERKONTAMINASI MENJADI AIR SIAP MINUM DAN OPTIMALISASI DAUR ULANG AIR WUDHU DI SUNTER JAYA (2025)

Krisis air bersih di Sunter Jaya, Jakarta Utara, dipicu oleh menurunnya kualitas air tanah akibat intrusi air laut dan kontaminasi limbah domestik. Kondisi ini memengaruhi baik sumber air minum maupun air wudhu di Masjid Al-Mukhlish yang sama-sama bersumber dari air tanah tercemar. Program pengabdian masyarakat ini menerapkan sistem filtrasi hybrid zeolit dan reverse osmosis (RO) dalam housing FRP untuk mengolah air tanah yang telah terkontaminasi menjadi air siap minum, sekaligus memanfaatkan kembali air limbah wudhu yang berasal dari sumber yang sama. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi efektivitas sistem dalam menurunkan salinitas, TDS, logam berat, dan kontaminan mikrobiologis. Hasil implementasi menunjukkan sistem berhasil menurunkan TDS dari 1500 mg/L menjadi 45 mg/L (efisiensi 97%), salinitas dari 1.2% menjadi 0.05%, serta menghilangkan 99% bakteri patogen. Sistem ini tidak hanya menyediakan air minum yang memenuhi standar Permenkes No. 492/2010 bagi 500 kepala keluarga, tetapi juga mengoptimalkan pemanfaatan air melalui daur ulang air wudhu. Model ini terbukti efektif sebagai solusi berkelanjutan untuk krisis air bersih di kawasan pesisur urban dengan keterbatasan infrastruktur air.

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PENGOLAHAN SUMBER AIR WUDHU MENJADI AIR SIAP MINUM DI MASJID AL-MUKHLISH, JAKARTA UTARA (2025)

Permasalahan krisis air bersih di Jakarta Utara, khususnya wilayah Sunter Jaya, semakin mengkhawatirkan akibat pencemaran limbah domestik dan industri, serta keterbatasan infrastruktur pengolahan air. Artikel ini menyajikan program pengabdian masyaraskat berbasis teknologi yang memanfaatkan Masjid Al-Mukhlish sebagai pusat penyediaan air minum melalui pengolahan sumber air wudhu. Menggunakan pendekatan terintegrasi nanofiltrasi, Reverse Osmosis (RO), dan sterilisasi UV-C, program ini dirancang untuk menjawab tiga masalah utama: keterbatasan akses air bersih, rendahnya kesadaran masyarakat tentang daur ulang air, dan minimnya infrastruktur pengolahan. Metode pelaksanaan mencakup empat tahap: (1) Sosialisasi melalui FGD dengan DKM dan warga; (2) Pelatihan pembuatan sistem filter bertahap (sedimentasi pasir kwarsa, adsorpsi karbon aktif-zeolit, RO, dan UV-C); (3) Instalasi unit filter FRP di masjid; serta (4) Evaluasi melalui uji kualitas air dan survei kepuasan warga. Hasil program menunjukkan keberhasilan signifikan: penurunan TDS dari 500 mg/L menjadi 50 mg/L, eliminasi 99% bakteri patogen (termasuk E. coli), serta peningkatan keterampilan 80% peserta pelatihan dalam mengoperasikan sistem. Terbentuknya kelompok pengelola air masjid dan biaya perawatan terjangkau (Rp500.000/bulan) menjamin keberlanjutan program. Model ini tidak hanya mendukung pencapaian SDGs tujuan ke-6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak), tetapi juga menawarkan konsep unik pemberdayaan masyarakat sebagai Lembaga nn-profit melalui optimalisasi fungsi masjid. Potensi replikasi masjid-masjid lainnya di Jakarta Utara yang menghadapi masalah serupa menjadikan program ini sebagai contoh solusi berkelanjutan untuk krisis air perkotaan, dengan kombinasi tepat antara teknologi, edukasi, dan partisipasi masyarakat. Temuan ini merekomendasikan perlunya kebijakan pemerintah untuk mendukung skema serupa melalui program CSR atau dana desa